KESEJATIAN DIRI
by: Ghufron A. Mas'adi
Manusia..........kita semua....
Sangat lemah, tak sekuat kuda. Apalagi dibandingkan gajah dan unta. Tak tahan perubahan cuaca dan hawa dingin. Tak mampu hidup sendiri. Selalu bergantung kepada alam, sesama, dan Kepada Yang Maha Rahmann.
Sangat kecil bagaikan kutu, dibandingkan jagat raya yang gagah perkasa. Menghadapi gempa dan bencana,bisa apa? Hanya pasrah atau berputus-asa, setelah berusaha sekuat tenaga. Dalam derita, hanya mampu menangis, menahan senyum dan tawa. Tak ada yang sakti, kecuali Nabi dan para Wali. Bukan hanya tubuh yang lemah, juga akal pikiran dan jiwa. Kecuali Nabi dan para Sufi.
Nafsu.............'
Satu-satunya, milik yang nyaris tak terbatas. Membuat kita tak pernah puas. Suka mendominasi, ganas dan buas. Menyakiti dan memangsa sesama. Mencemari dan merusak alam semesta. Mendorong laku sombong. Sesama dipandang rendah. Bertemu kawan memalingkan wajah. Menyadari diri lebih tinggi. Terhadap tetangga tidak peduli. Lakunya kurang terpuji.
Yang kaya, meninggikan harta. Menghamburkan uang tidak sedikit. Diminta sumbangan sangat pelit. Yang Pandai, menanggalkan ilmu. Jadinya pandai berbohong dan pandai menipu. Menyalahkagunakan teori untuk keuntungan pribadi. Memutarbalikkan dalil, membela yang bathil. Ilmu adalah cahaya kebenaran, harusnya, transparan. Menanggalkan kebenaran, orang lain biarlah bodoh. Agar si Pandai mudah mengecoh.
Pejabat dan aparat meninggikan pangkat. Yang berkuasa meninggika rekaya. Sesama diperintah menghormat. Tunduk dan patuh, tidak boleh mendebat. Menjabat berlaku sombong, selesai menderita post power syndrom.
Bermula dari resah dan gelisah. Bingung, bergaul rasanya canggung. Menyendiri, sambil duduk termenung. Bukang sedang berpikir, berfilsafat atau tafakkur mencari ilham. Bukan..! Tampak wagu, karena pikirfanya buntu.
Bila sombong, berbohong, dan suka mengobral janji-janji kosong, lalu wong cilik siapa yang menolong. Nasib mereka bak bola pimpong. Berganti-ganti pejabat, tetap saja melarat. Berganti-ganti penguasa, tetap menderita.
Kemarilah..... kalian semua ! Lepaskan baju kebesaran, lepaskan juga atribut jabatan. Lepaskan mahkota dikepala, lepaskan tongkat komando di tangan. Lepaskan dengan penuh kesadaran, sebelum dipaksa melepaskannya.
Sesaat saja..., tinggalkan singgasana kekuasaan dan kursi empuk dewan.
Kemarilah,,,, Rakyatmu bukan rakyat jelata, temui mereka. Temui rakyat kecil yang tengah kesulitan. Hadapi mereka yang menagih janji. Salami rakyat banyak, yang setiap saat dipaksa menyetor pajak. Sadari, rakyatmu bukan rakyat jelata. Mereka yang mengantarkan kalian ke singgasana.
Bertanyalah sejujurnya, kepada diri sendiri. Jika kalian lupa, tanyakan kepada mereka: "janji apa yang pernah kalian sampaikan dengan suara keras dan lantang?" Tanyakan, pada diri sendiri atau pada mereka: "Dirimu menepati janji?" Sebelum menanyakan mereka, ada baik bercermin! Biarlah yang di dalamnya mendahului menjawab: "kesajatian diri". Punten !
............oo0
Tidak ada komentar:
Posting Komentar