Rabu, 12 Juni 2013

Unggaspun Berdzikir


UNGGASPUN BERDZIKIR 

by: Ghufron A. Mas'adi


Pada dua-pertiga malam....
Sebelum fajar menyingsing, kokok ayam jantan melantun merdu. Mengabarkan isyarat waktu tahajjud tiba. Sejak itu si jago, betina dan anak-anaknya tidak tidur lagi. Suara-suara lembut terdengar dari paruh mereka. Seperti suara dzikir, lembut. Barangkali mereka juga sedang melakukan ritual malam.

Dini hari...
Sesaat menjelang fajar menyingsing, lagi-lagi suara kokok ayam jantan terdengar lebih nyaring. Bersautan dengan kokok ayam tetangga. Disusul dengan kicau Jekituntong, Kacer, Terucuk, dan kawanan unggas lain.

Semua saudara unggas gembira menyambut pagi tiba. Tidak ada yang murung dan termenung-menung. Walaupun cuaca tampak mendung. Kicau burung dan kokok jago berpadu serasi. layaknya simphoni. Sepertinya mereka sedang bernyanyi dan menari-nari. Mungkin mereka sedang berdzikir. Yang jelas, terdengar indah, merdu dan menyenangkan hati yang memahaminya.

Suara-suara itu, membangunkan kita yang sedang tidur. Menyadarkan manusia dari mimpi indah. mengingat manusia menunaikan kewajibannya, mempersiapkan tugas pengabdiannya: Sholat subuh dan persiapan berangkat kerja.

Unggas dan saudara-saudaranya segera berhamburan dari kandang. Bekejar-kejaran sambil mengibaskan sayap kuat-kuat. Sebagian bermain dipucuk-pucuk pohon,  di udara bebas. Berpindah dari ranting kepucuk, dan dari pucuk ke dahan. Mereka berolah raga pagi melenturkan otot dan  berolah vokal. Sambil mencari makan untuk sarapan. Sementara pasukan kelelawar baru saja pulang, setelah berjuang menjaga malam.

Sang jantan menemukan makanan berceceran  di antara kerikil dan sampah. Segera ia panggil betinanya. Dengan sigap sang betina memisahkan sampah dari makanan, dengan cakarnya. Lalu memanggil anak-anak dan saudara-saudaranya. Merekapun berbagi sarapan bersama. 

Induk Trucuk-pun begitu juga Menyambut cerah pagi, terbang jauh menerobos  halangan ranting dan dahan. Segera ia pulang membawakan buah masak pohon, lalu menyuapi   piyek  kesayangannya .

Tengah siang...
Ketika terik terasa menyengat, keluarga besar unggas berkumpul, istirahat  sejenak. Mereka menemukan tempat yang teduh dan nyaman. Sekedar relaksasi melepas bebas dan tanggung jawab nafkah. Ada yang bertengger, duduk-merunduk, beridiri tegak. Sayap mereka sedikit dibuka merenggang. Layaknya orang bersedekap. Tampak paruhnya sedikit terbuka, menghembus nafas pendek-pendek. Jakunnya naik turun. Sepertinya mereka sedang bertasbih, seperti sedang mensyukuri karunia besar. Nyaris tak terdengar telinga, kecuali desah nafas pendeknya. 

Di tempat yang agak tinggi...
Sepasang burung bekerjasama. Mengumpulkan rumput-rumput kering, diantara dahan dan ranting. Membangun rumah dan menenun sarang, untuk mengeram.

Setiap kali bertelur, sang induk berteriak keras dan menjerit histeris, seperti sedang menangis dan meminta tolong. Yang dilahirkannya bukan anak yang menyerupai dirinya. Melainkan telur bulat seperti batu. Tidak berkepala, tidak bercakar dan tidak pula bersayap

Sepertinya  sang Induk sedang  mengadu kepada Tuhannya: "Salah apa yang telah aku lakukan?  Tiap malam, pagi dan petang  tugas telah aku tunaikan, memberi isyarat waktu. Berdzikir dan bertasbih tidak pernah aku tinggalkan, berbohong dan serakah tidak pernah aku lakukan. Mengapa anakku lahir bulat seperti batu? Dosa apa yang telah aku lakukan?"

Sang induk mendapat petunjuk. Agar "berpuasa", menahan lapar, dahaga,  menahan tidur dan selalu terjaga. Selama mengeram sang induk khusyu'. Seperti sedang berdzikir. Ketika datang gangguan, ia mengeraskan dzikirnya, 
Setelah cukup waktunya....

Ia terima mukjizat. Telur yang seperti batu, retak dan muncul dari dalamnya sang anak. Mungil, bersih dan lucu, persis menyerupai dirinya. Bercakar, berkepala dan berbadan. Sang Induk bersyukur, do'a dzikirnya terkabul. Dipeluknya sang anak penuh kehangatan dan kasih sayang. Diajarinya bermain naik-turun punggungya. Sambil terus berucap syukur dan tak berhenti bertasbih.  

Sang Induk mendidik anaknya: "adkuruk..., adkuruk..., adkuruk....".  Karena tidak paham, anak-anaknya bertanya:  "kepiye mak..., kepiye mak.., kepiye mak". bapaknya menjawab: "udkuruuuullaah...! udkuruuullaah..!" Begitulah  unggas sekeluarga berdzikir dan bertasbih.  




  

Kesejatian Diri




KESEJATIAN DIRI


by: Ghufron A. Mas'adi

Manusia..........kita semua....  
     Sangat lemah, tak sekuat kuda. Apalagi dibandingkan gajah dan unta. Tak tahan perubahan cuaca dan hawa dingin. Tak mampu hidup sendiri. Selalu bergantung kepada alam, sesama, dan Kepada Yang Maha  Rahmann.
     Sangat kecil bagaikan kutu, dibandingkan jagat raya yang gagah perkasa. Menghadapi gempa dan bencana,bisa apa? Hanya pasrah atau berputus-asa, setelah berusaha sekuat tenaga. Dalam derita, hanya mampu menangis, menahan senyum dan tawa. Tak ada yang sakti, kecuali Nabi dan para Wali. Bukan hanya tubuh yang lemah, juga akal pikiran dan jiwa. Kecuali Nabi dan para Sufi.

Nafsu.............'
     Satu-satunya, milik yang nyaris tak terbatas. Membuat kita tak pernah puas. Suka mendominasi,  ganas dan buas. Menyakiti dan memangsa sesama. Mencemari dan merusak alam semesta. Mendorong laku sombong. Sesama dipandang  rendah. Bertemu kawan memalingkan wajah. Menyadari diri lebih tinggi. Terhadap tetangga tidak peduli. Lakunya kurang terpuji.
     Yang kaya, meninggikan harta. Menghamburkan uang tidak sedikit. Diminta sumbangan sangat pelit. Yang  Pandai,  menanggalkan  ilmu. Jadinya  pandai berbohong dan  pandai menipu. Menyalahkagunakan teori untuk keuntungan pribadi. Memutarbalikkan dalil, membela yang bathil. Ilmu adalah cahaya kebenaran, harusnya, transparan. Menanggalkan kebenaran, orang lain biarlah bodoh. Agar si Pandai mudah mengecoh.
Pejabat dan aparat  meninggikan pangkat. Yang berkuasa meninggika rekaya. Sesama diperintah menghormat. Tunduk dan patuh, tidak boleh mendebat. Menjabat berlaku sombong, selesai menderita post power syndrom
    Bermula dari resah dan gelisah. Bingung, bergaul rasanya canggung. Menyendiri, sambil duduk termenung. Bukang sedang berpikir, berfilsafat atau tafakkur mencari ilham. Bukan..! Tampak wagu, karena pikirfanya buntu.
     Bila sombong,  berbohong, dan suka mengobral janji-janji kosong, lalu wong cilik siapa yang menolong. Nasib mereka bak bola pimpong. Berganti-ganti  pejabat, tetap saja melarat. Berganti-ganti penguasa, tetap menderita.  
      Kemarilah..... kalian semua ! Lepaskan baju kebesaran, lepaskan juga atribut jabatan. Lepaskan mahkota dikepala, lepaskan tongkat komando di tangan. Lepaskan dengan penuh kesadaran, sebelum dipaksa melepaskannya. 
Sesaat saja..., tinggalkan singgasana kekuasaan dan kursi empuk dewan. 
     Kemarilah,,,, Rakyatmu bukan rakyat jelata, temui mereka. Temui rakyat kecil yang tengah kesulitan. Hadapi mereka  yang menagih janji. Salami rakyat banyak, yang setiap saat dipaksa menyetor pajak. Sadari,   rakyatmu bukan rakyat jelata. Mereka yang mengantarkan kalian ke singgasana.
     Bertanyalah sejujurnya, kepada diri sendiri. Jika kalian lupa, tanyakan kepada mereka: "janji apa yang pernah kalian sampaikan dengan suara keras dan lantang?" Tanyakan,  pada diri sendiri atau pada mereka: "Dirimu menepati janji?" Sebelum menanyakan mereka, ada baik bercermin! Biarlah yang di dalamnya mendahului menjawab: "kesajatian diri". Punten !  


............oo0