UNGGASPUN BERDZIKIR
by: Ghufron A. Mas'adi
Pada dua-pertiga malam....
Sebelum fajar menyingsing, kokok ayam jantan melantun merdu. Mengabarkan isyarat waktu tahajjud tiba. Sejak itu si jago, betina dan anak-anaknya tidak tidur lagi. Suara-suara lembut terdengar dari paruh mereka. Seperti suara dzikir, lembut. Barangkali mereka juga sedang melakukan ritual malam.
Dini hari...
Sesaat menjelang fajar menyingsing, lagi-lagi suara kokok ayam jantan terdengar lebih nyaring. Bersautan dengan kokok ayam tetangga. Disusul dengan kicau Jekituntong, Kacer, Terucuk, dan kawanan unggas lain.
Semua saudara unggas gembira menyambut pagi tiba. Tidak ada yang murung dan termenung-menung. Walaupun cuaca tampak mendung. Kicau burung dan kokok jago berpadu serasi. layaknya simphoni. Sepertinya mereka sedang bernyanyi dan menari-nari. Mungkin mereka sedang berdzikir. Yang jelas, terdengar indah, merdu dan menyenangkan hati yang memahaminya.
Suara-suara itu, membangunkan kita yang sedang tidur. Menyadarkan manusia dari mimpi indah. mengingat manusia menunaikan kewajibannya, mempersiapkan tugas pengabdiannya: Sholat subuh dan persiapan berangkat kerja.
Unggas dan saudara-saudaranya segera berhamburan dari kandang. Bekejar-kejaran sambil mengibaskan sayap kuat-kuat. Sebagian bermain dipucuk-pucuk pohon, di udara bebas. Berpindah dari ranting kepucuk, dan dari pucuk ke dahan. Mereka berolah raga pagi melenturkan otot dan berolah vokal. Sambil mencari makan untuk sarapan. Sementara pasukan kelelawar baru saja pulang, setelah berjuang menjaga malam.
Sang jantan menemukan makanan berceceran di antara kerikil dan sampah. Segera ia panggil betinanya. Dengan sigap sang betina memisahkan sampah dari makanan, dengan cakarnya. Lalu memanggil anak-anak dan saudara-saudaranya. Merekapun berbagi sarapan bersama.
Induk Trucuk-pun begitu juga Menyambut cerah pagi, terbang jauh menerobos halangan ranting dan dahan. Segera ia pulang membawakan buah masak pohon, lalu menyuapi piyek kesayangannya .
Tengah siang...
Ketika terik terasa menyengat, keluarga besar unggas berkumpul, istirahat sejenak. Mereka menemukan tempat yang teduh dan nyaman. Sekedar relaksasi melepas bebas dan tanggung jawab nafkah. Ada yang bertengger, duduk-merunduk, beridiri tegak. Sayap mereka sedikit dibuka merenggang. Layaknya orang bersedekap. Tampak paruhnya sedikit terbuka, menghembus nafas pendek-pendek. Jakunnya naik turun. Sepertinya mereka sedang bertasbih, seperti sedang mensyukuri karunia besar. Nyaris tak terdengar telinga, kecuali desah nafas pendeknya.
Di tempat yang agak tinggi...
Sepasang burung bekerjasama. Mengumpulkan rumput-rumput kering, diantara dahan dan ranting. Membangun rumah dan menenun sarang, untuk mengeram.
Setiap kali bertelur, sang induk berteriak keras dan menjerit histeris, seperti sedang menangis dan meminta tolong. Yang dilahirkannya bukan anak yang menyerupai dirinya. Melainkan telur bulat seperti batu. Tidak berkepala, tidak bercakar dan tidak pula bersayap
Sepertinya sang Induk sedang mengadu kepada Tuhannya: "Salah apa yang telah aku lakukan? Tiap malam, pagi dan petang tugas telah aku tunaikan, memberi isyarat waktu. Berdzikir dan bertasbih tidak pernah aku tinggalkan, berbohong dan serakah tidak pernah aku lakukan. Mengapa anakku lahir bulat seperti batu? Dosa apa yang telah aku lakukan?"
Sang induk mendapat petunjuk. Agar "berpuasa", menahan lapar, dahaga, menahan tidur dan selalu terjaga. Selama mengeram sang induk khusyu'. Seperti sedang berdzikir. Ketika datang gangguan, ia mengeraskan dzikirnya,
Setelah cukup waktunya....
Ia terima mukjizat. Telur yang seperti batu, retak dan muncul dari dalamnya sang anak. Mungil, bersih dan lucu, persis menyerupai dirinya. Bercakar, berkepala dan berbadan. Sang Induk bersyukur, do'a dzikirnya terkabul. Dipeluknya sang anak penuh kehangatan dan kasih sayang. Diajarinya bermain naik-turun punggungya. Sambil terus berucap syukur dan tak berhenti bertasbih.
Sang Induk mendidik anaknya: "adkuruk..., adkuruk..., adkuruk....". Karena tidak paham, anak-anaknya bertanya: "kepiye mak..., kepiye mak.., kepiye mak". bapaknya menjawab: "udkuruuuullaah...! udkuruuullaah..!" Begitulah unggas sekeluarga berdzikir dan bertasbih.